Kelas Insecta · Pulau Sumatera
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Kepulauan Bangka Belitung
0%
dari 1.753 catatan total
Tren Tahunan
+0%
+0.0% vs 1997
Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang menyimpan kekayaan serangga (Insecta) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 462 catatan observasi serangga di provinsi ini, yang mewakili sekitar 30 spesies berbeda.
Serangga mendominasi keanekaragaman hayati Indonesia dengan estimasi ratusan ribu spesies, banyak di antaranya belum teridentifikasi secara ilmiah. Kupu-kupu sayap burung dari Maluku dan kumbang tanduk dari Kalimantan termasuk yang paling dicari kolektor di seluruh dunia. Serangga memainkan peran vital dalam penyerbukan, dekomposisi, dan rantai makanan di seluruh ekosistem Nusantara.
Berdasarkan jumlah catatan observasi
Lampides boeticus
Tanaecia pelea
Prothoe franck
Elymnias hypermnestra
Euploea mulciber
Eooxylides tharis
Papilio memnon
Ideopsis juventa
Cupha erymanthis
Cynitia cocytina
Melanitis leda
Saletara panda
Charaxes bernardus
Ideopsis vulgaris
Graphium sarpedon
Dophla evelina
Parantica aspasia
Euploea crameri
Graphium antiphates
Graphium empedovana
Graphium doson
Lexias dirtea
Euthalia alpheda
Neptis hylas
Mycalesis anapita
Cheritra freja
Neomyrina nivea
Papilio polytes
Coelites euptychioides
Euploea midamus
Jumlah catatan observasi serangga di Kepulauan Bangka Belitung per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 30 spesies serangga (Insecta) yang tercatat di Kepulauan Bangka Belitung dengan total 462 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies serangga dengan catatan terbanyak di Kepulauan Bangka Belitung adalah Lampides boeticus dengan 35 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan serangga di Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan perubahan +0.0% vs 1997 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.