Memuat peta...
80 titik observasi di Papua Barat
Peta LengkapTotal Rekaman
60.171
1.10% dari nasional
Estimasi Spesies
20
spesies tercatat
Peringkat Nasional
#4
dari 38 provinsi
Tren Tahunan
+13.8%
2025 vs 2024
Papua Barat mencakup Pegunungan Arfak dan pesisir utara semenanjung Vogelkop (Kepala Burung), menurun melalui hutan hujan dataran rendah ke Teluk Cenderawasih. Wilayah ini secara geologis kompleks, dengan teras karang terangkat dan kerak benua purba.
Dengan 60.171 rekaman observasi, Papua Barat termasuk dalam kategori provinsi dengan dokumentasi keanekaragaman hayati yang cukup tinggi di Indonesia. Basis data yang substansial ini memberikan gambaran yang memadai tentang kehidupan liar di wilayah tersebut.
Kelompok Ikan memimpin dokumentasi di Papua Barat dengan 50% rekaman, namun kontribusi kelompok takson lainnya juga cukup signifikan. Kelompok lain yang menonjol meliputi Serangga, Burung, Tumbuhan. Total 20 spesies unik telah tercatat di provinsi ini. Spesies paling sering teramati adalah Eucrossorhinus dasypogon dengan 290 rekaman.
Aktivitas survei dan dokumentasi di Papua Barat mengalami peningkatan signifikan sebesar 71% dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini kemungkinan didorong oleh meningkatnya partisipasi dalam program citizen science dan ekspedisi penelitian terstruktur. Puncak dokumentasi terjadi pada tahun 2023 dengan 12.126 rekaman. Data tersedia dari rentang tahun 1877 hingga 2026, mencakup 149 tahun observasi. Secara biogeografis, Papua Barat terletak di sebelah timur Garis Wallace, wilayah transisi yang menampung fauna dengan karakter Australasia. Posisi ini menjadikan provinsi ini memiliki potensi endemisme yang sangat tinggi dan komposisi spesies yang berbeda dari Jawa atau Sumatera.
Distribusi rekaman per kelompok takson
Klik nama takson untuk melihat detail spesies per kelompok di Papua Barat
| # | Spesies | Rekaman |
|---|---|---|
| 1 | Eucrossorhinus dasypogon | 290 |
| 2 | Linckia laevigata | 207 |
| 3 | Hemigymnus melapterus | 197 |
| 4 | Emoia caeruleocauda | 197 |
| 5 | Cheilinus undulatus | 194 |
| 6 | Zanclus cornutus | 193 |
| 7 | Chlorurus bleekeri | 192 |
| 8 | Arothron nigropunctatus | 190 |
| 9 | Flavocaranx bajad | 189 |
| 10 | Amphiprion clarkii | 177 |
| 11 | Plectorhinchus polytaenia | 175 |
| 12 | Cephalopholis cyanostigma | 166 |
| 13 | Gymnothorax javanicus | 166 |
| 14 | Eretmochelys imbricata | 165 |
| 15 | Paradisaea rubra | 164 |
| 16 | Rhyticeros plicatus | 163 |
| 17 | Polycarpa aurata | 162 |
| 18 | Amphiprion ocellaris | 162 |
| 19 | Premnas biaculeatus | 159 |
| 20 | Balistoides viridescens | 159 |
Data rekaman keanekaragaman hayati di Papua Barat tersedia dari tahun 1877 hingga 2026. Puncak dokumentasi terjadi pada tahun 2023 dengan 12.126 rekaman. Dalam periode 2020-2026, total 41.590 rekaman telah dikumpulkan.
Foto bersumber dari berbagai kontributor. Hak cipta milik masing-masing fotografer. Lisensi bervariasi per foto.
Papua Barat memiliki 60.171 rekaman observasi keanekaragaman hayati yang tercatat. Angka ini menempatkan provinsi ini pada peringkat ke-4 secara nasional dari 38 provinsi di Indonesia.
Kelompok Ikan memiliki jumlah rekaman tertinggi di Papua Barat. Dominasi kelompok ini dapat mencerminkan fokus penelitian tertentu, aksesibilitas pengamatan, atau kelimpahan alami di wilayah Papua.
Berdasarkan data yang terhimpun, terdapat sekitar 20 spesies unik yang telah tercatat di Papua Barat. Namun perlu dicatat bahwa angka ini kemungkinan jauh di bawah jumlah spesies yang sesungguhnya, karena banyak area yang belum tersurvei secara menyeluruh.
Belum. Data untuk Papua Barat mencerminkan rekaman yang telah dikumpulkan dan dipublikasikan, bukan inventarisasi lengkap. Banyak area di provinsi ini masih memerlukan survei lebih lanjut, terutama untuk kelompok takson yang kurang terdokumentasi seperti serangga dan mikroorganisme.
Anda dapat berkontribusi melalui platform citizen science seperti iNaturalist. Dengan mengambil foto dan mendokumentasikan spesies yang Anda temui di Papua Barat, Anda membantu meningkatkan pemahaman tentang biodiversitas di wilayah Papua.