Kelas Reptilia · Pulau Sulawesi
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Sulawesi Utara
0%
dari 68.701 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-37.2% vs 2025
Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Pulau Sulawesi yang menyimpan kekayaan reptil (Reptilia) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 1.309 catatan observasi reptil di provinsi ini, yang mewakili sekitar 33 spesies berbeda.
Indonesia memiliki kekayaan reptil yang luar biasa, termasuk Komodo sebagai kadal terbesar di dunia dan berbagai spesies ular, kura-kura, serta buaya. Hutan hujan tropis dan ekosistem pesisir menyediakan habitat ideal bagi ratusan spesies reptil endemik. Penemuan spesies baru masih terus terjadi, terutama di kawasan timur Indonesia yang belum banyak disurvei.
Berdasarkan jumlah catatan observasi
Chelonia mydas
Draco spilonotus
Ahaetulla prasina
Eretmochelys imbricata
Hemidactylus frenatus
Hemidactylus platyurus
Laticauda colubrina
Boiga irregularis
Varanus salvator
Cyrtodactylus jellesmae
Tropidolaemus subannulatus
Eutropis rudis
Eutropis macrophthalma
Emoia caeruleocauda
Gonyosoma jansenii
Gekko monarchus
Malayopython reticulatus
Tropidolaemus laticinctus
Dendrelaphis terrificus
Rhabdophis chrysargoides
Psammodynastes pulverulentus
Emoia atrocostata
Acrochordus granulatus
Lamprolepis smaragdina
Candoia paulsoni
Tytthoscincus temmincki
Bronchocela celebensis
Dendrelaphis marenae
Chrysopelea paradisi
Eutropis multifasciata
Jumlah catatan observasi reptil di Sulawesi Utara per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 33 spesies reptil (Reptilia) yang tercatat di Sulawesi Utara dengan total 1.309 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies reptil dengan catatan terbanyak di Sulawesi Utara adalah Chelonia mydas dengan 255 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan reptil di Sulawesi Utara menunjukkan perubahan -37.2% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.