Kelas Reptilia · Pulau Sumatera
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Aceh
0%
dari 27.621 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-75.0% vs 2025
Aceh merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang menyimpan kekayaan reptil (Reptilia) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 0 catatan observasi reptil di provinsi ini, yang mewakili sekitar 11 spesies berbeda.
Indonesia memiliki kekayaan reptil yang luar biasa, termasuk Komodo sebagai kadal terbesar di dunia dan berbagai spesies ular, kura-kura, serta buaya. Hutan hujan tropis dan ekosistem pesisir menyediakan habitat ideal bagi ratusan spesies reptil endemik. Penemuan spesies baru masih terus terjadi, terutama di kawasan timur Indonesia yang belum banyak disurvei.
Berdasarkan jumlah catatan observasi
Jumlah catatan observasi reptil di Aceh per tahun
Tropidolaemus wagleri
Foto: enwhyte
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Psammodynastes pictus
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Psammodynastes pictus
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Psammodynastes pictus
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Boiga cynodon
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Boiga cynodon
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Boiga cynodon
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Psammodynastes pictus
Foto: Viktor Mašek
http://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 11 spesies reptil (Reptilia) yang tercatat di Aceh dengan total 0 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies reptil dengan catatan terbanyak di Aceh adalah Dogania subplana dengan 6 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan reptil di Aceh menunjukkan perubahan -75.0% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.