Kelas Plantae · Pulau Sumatera
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Aceh
0%
dari 26.732 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-97.8% vs 2025
Aceh merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang menyimpan kekayaan tumbuhan (Plantae) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 2.102 catatan observasi tumbuhan di provinsi ini, yang mewakili sekitar 30 spesies berbeda.
Indonesia memiliki sekitar 30.000 hingga 40.000 spesies tumbuhan berbunga, menjadikannya salah satu negara megadiversitas flora terkaya di dunia. Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia, dan Amorphophallus titanum, bunga dengan tongkol tertinggi, keduanya berasal dari hutan Sumatera. Hutan hujan tropis Kalimantan dan Papua menyimpan ribuan spesies pohon yang belum sepenuhnya terdokumentasi secara ilmiah.
Berdasarkan jumlah catatan observasi

Asystasia intrusa

Catharanthus roseus

Zinnia elegans

Solanum torvum

Clitoria ternatea

Tridax procumbens
Diospyros simaloerensis
Calotropis gigantea
Rhododendron rarilepidotum

Jatropha gossypiifolia
Passiflora vesicaria
Mastixia trichotoma
Etlingera elatior

Caesalpinia pulcherrima

Celosia argentea
Sieruela rutidosperma
Lantana camara
Uraria lagopodoides
Hippobroma longiflora

Averrhoa bilimbi

Mimosa pudica

Urena lobata

Eclipta prostrata
Vatica venulosa
Oxalis barrelieri
Alysicarpus vaginalis
Jatropha multifida
Allamanda cathartica
Turnera subulata
Rhododendron banghamiorum
Jumlah catatan observasi tumbuhan di Aceh per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 30 spesies tumbuhan (Plantae) yang tercatat di Aceh dengan total 2.102 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies tumbuhan dengan catatan terbanyak di Aceh adalah Asystasia intrusa dengan 64 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan tumbuhan di Aceh menunjukkan perubahan -97.8% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.