Kelas Aves · Pulau Sulawesi
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Sulawesi Utara
0%
dari 64.824 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-82.5% vs 2025
Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Pulau Sulawesi yang menyimpan kekayaan burung (Aves) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 4.870 catatan observasi burung di provinsi ini, yang mewakili sekitar 30 spesies berbeda.
Indonesia merupakan rumah bagi lebih dari 1.700 spesies burung, menjadikannya salah satu negara dengan keanekaragaman avifauna tertinggi di dunia. Dari Cenderawasih di Papua hingga Jalak Bali di Nusa Tenggara, setiap pulau menyimpan keunikan tersendiri. Banyak spesies endemik terancam punah akibat hilangnya habitat dan perdagangan ilegal.
Berdasarkan jumlah catatan observasi

Actenoides monachus
Rhyticeros cassidix
Cittura cyanotis

Dicrurus hottentottus

Pycnonotus aurigaster

Zanclostomus calyorhynchus
Mulleripicus fulvus
Loriculus stigmatus

Dicaeum celebicum

Scissirostrum dubium

Hirundo javanica

Lonchura atricapilla
Ninox ochracea

Dicaeum aureolimbatum
Ducula aenea
Coracias temminckii

Todiramphus chloris
Pitta erythrogaster

Streptocitta albicollis
Gallirallus torquatus
Otus manadensis
Macropygia doreya

Myzomela chloroptera

Leptocoma sericea

Ducula luctuosa

Anthreptes malacensis
Passer montanus
Ptilinopus melanospilus
Ceyx fallax
Pelargopsis melanorhyncha
Jumlah catatan observasi burung di Sulawesi Utara per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 30 spesies burung (Aves) yang tercatat di Sulawesi Utara dengan total 4.870 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies burung dengan catatan terbanyak di Sulawesi Utara adalah Actenoides monachus dengan 190 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan burung di Sulawesi Utara menunjukkan perubahan -82.5% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.