Kelas Amphibia · Pulau Sumatera
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Aceh
0%
dari 27.621 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-95.0% vs 2025
Aceh merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang menyimpan kekayaan amfibi (Amphibia) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 512 catatan observasi amfibi di provinsi ini, yang mewakili sekitar 30 spesies berbeda.
Amfibi Indonesia mencakup ratusan spesies katak, kodok, dan salamander yang mendiami hutan dataran rendah hingga pegunungan tinggi. Pulau Kalimantan dan Sumatera menjadi pusat keanekaragaman amfibi dengan tingkat endemisme yang sangat tinggi. Amfibi berperan sebagai bioindikator kesehatan ekosistem, dan penurunan populasinya menjadi peringatan dini degradasi lingkungan.
Berdasarkan jumlah catatan observasi
Duttaphrynus melanostictus
Phrynoidis asper
Limnonectes shompenorum
Odorrana hosii
Rhacophorus catamitus
Chalcorana chalconota
Chalcorana parvaccola
Fejervarya cancrivora
Megophrys nasuta
Rhacophorus barisani
Kaloula pulchra
Limnonectes blythii
Zhangixalus achantharrhena
Polypedates leucomystax
Hylarana erythraea
Bijurana nicobariensis
Fejervarya limnocharis
Limnonectes kuhlii
Huia sumatrana
Ingerophrynus biporcatus
Nyctixalus pictus
Phrynoidis juxtasper
Amnirana nicobariensis
Zhangixalus prominanus
Phrynella pulchra
Sumaterana crassiovis
Polypedates colletti
Microhyla nakkavaram
Micryletta inornata
Megophrys montana
Jumlah catatan observasi amfibi di Aceh per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 30 spesies amfibi (Amphibia) yang tercatat di Aceh dengan total 512 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies amfibi dengan catatan terbanyak di Aceh adalah Duttaphrynus melanostictus dengan 79 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan amfibi di Aceh menunjukkan perubahan -95.0% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.