Kelas Mammalia · Pulau Maluku
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Maluku Utara
0%
dari 10.876 catatan total
Tren Tahunan
+0%
+71.4% vs 2025
Maluku Utara merupakan salah satu provinsi di Pulau Maluku yang menyimpan kekayaan mamalia (Mammalia) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 116 catatan observasi mamalia di provinsi ini, yang mewakili sekitar 30 spesies berbeda.
Kepulauan Indonesia dihuni oleh beragam mamalia ikonik seperti Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, dan Komodo yang legendaris. Garis Wallace memisahkan fauna mamalia bertipe Asia di barat dengan fauna bertipe Australasia di timur, menciptakan pola distribusi yang unik. Konservasi mamalia besar menjadi prioritas karena perannya sebagai spesies payung bagi ekosistem hutan tropis.
Berdasarkan jumlah catatan observasi
Phalanger ornatus
Phalanger matabiru
Phalanger rothschildi
Pteropus personatus
Stenella longirostris
Phalanger orientalis
Dobsonia crenulata
Pteropus hypomelanus
Pteropus chrysoproctus
Rhynchomeles prattorum
Rattus norvegicus
Phalanger alexandrae
Nyctimene albiventer
Nyctimene cephalotes
Pteropus caniceps
Mosia nigrescens
Canis lupus
Nyctimene keasti
Myotis moluccarum
Dobsonia moluccensis
Dobsonia viridis
Emballonura raffrayana
Felis catus
Macaca nigra
Melomys rufescens
Rattus elaphinus
Rattus feliceus
Globicephala macrorhynchus
Balaenoptera musculus
Bos javanicus
Jumlah catatan observasi mamalia di Maluku Utara per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 30 spesies mamalia (Mammalia) yang tercatat di Maluku Utara dengan total 116 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies mamalia dengan catatan terbanyak di Maluku Utara adalah Phalanger ornatus dengan 24 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan mamalia di Maluku Utara menunjukkan perubahan +71.4% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.