Kelas Reptilia · Pulau Sumatera
Total Catatan
0
Estimasi Spesies
0
berdasarkan data tercatat
% dari Total Kepulauan Riau
0%
dari 3.425 catatan total
Tren Tahunan
-0%
-14.3% vs 2025
Kepulauan Riau merupakan salah satu provinsi di Pulau Sumatera yang menyimpan kekayaan reptil (Reptilia) yang signifikan. Berdasarkan data yang terhimpun, tercatat sebanyak 261 catatan observasi reptil di provinsi ini, yang mewakili sekitar 38 spesies berbeda.
Indonesia memiliki kekayaan reptil yang luar biasa, termasuk Komodo sebagai kadal terbesar di dunia dan berbagai spesies ular, kura-kura, serta buaya. Hutan hujan tropis dan ekosistem pesisir menyediakan habitat ideal bagi ratusan spesies reptil endemik. Penemuan spesies baru masih terus terjadi, terutama di kawasan timur Indonesia yang belum banyak disurvei.
Berdasarkan jumlah catatan observasi

Varanus salvator

Calotes versicolor

Hemidactylus platyurus
Chelonia mydas

Boiga melanota

Tropidolaemus wagleri
Boiga dendrophila

Malayopython reticulatus
Dendrelaphis pictus
Cnemaspis sundainsula

Gonyosoma oxycephalum

Dendrelaphis caudolineatus

Bronchocela cristatella
Cnemaspis mumpuniae
Crocodylus porosus

Gekko gecko

Varanus nebulosus

Hemidactylus frenatus

Ahaetulla prasina
Chrysopelea paradisi

Boiga cynodon

Eutropis multifasciata

Draco sumatranus
Chrysopelea ornata
Heosemys spinosa
Eretmochelys imbricata
Gekko kuhli
Trimeresurus purpureomaculatus

Gehyra mutilata

Gekko monarchus
Jumlah catatan observasi reptil di Kepulauan Riau per tahun
Berdasarkan data terkini, terdapat sekitar 38 spesies reptil (Reptilia) yang tercatat di Kepulauan Riau dengan total 261 catatan observasi. Jumlah ini dapat berubah seiring bertambahnya data survei dan penelitian di lapangan.
Spesies reptil dengan catatan terbanyak di Kepulauan Riau adalah Varanus salvator dengan 20 catatan observasi. Data ini mencakup observasi dari berbagai sumber termasuk museum, penelitian lapangan, dan citizen science.
Tren pengamatan reptil di Kepulauan Riau menunjukkan perubahan -14.3% vs 2025 pada periode terkini. Peningkatan jumlah catatan umumnya mencerminkan semakin aktifnya kegiatan survei dan citizen science, bukan semata-mata pertambahan populasi. Data temporal ini penting untuk memahami pola musiman dan tren jangka panjang keanekaragaman hayati di wilayah ini.
Data diperbarui secara berkala dari berbagai sumber observasi biodiversitas.